RMI RMI RMI RMI RMI
RMI RMI
search :
RMI
RMI RMI
HomeAbout UsLine of BusinessPress RoomContact Us


welcome to our website
PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (PT RMI) is the first Indonesian company focusing on 'Clean and Renewable Energy', including geothermal drilling, geothermal power plant and carbon dioxide (CO2) purification.    
more..
 
News
28/04/2010
Media Indonesia, 28 April 2010 - Kedua Pihak menandatangani kerja sama jasa pengenboran proyek PLTP Wayang Windu Unit III dan IV yang more..

28/04/2010
Jakarta, Probisnis RM, 28 April 2010 – Pemerintah  akan melakukan lelang wilayah kerja panas bumi (WKP) di 9 wilayah. Sembilan wilayah tersebut more..

Local Wisdom
Dirty Video dari Anggrastina

Media Indonesia, 3 Juli 2010

Rohmad Hadiwijoyo
Dalang & CEO RMI Group

Kearifan local dalam cerita pewayangan telah memberikan contoh bahwa aib dengan latar belakang perbuatan mesum atau cabul akan mengakibatkan kutukan atau hukuman.

Kalau saja Raden Guwarsi dan Raden Guwarsa tidak melihat keelokan rekaman gambar-gambar di gadget Cupumanik yang dipegang Dewi Anjani, mungkin aib permainan mesum Dewi Indrati dengan Betara Surya tidak akan terbongkar. Aib itulah kelak yang menyebabkan kutukan terhadap keturunan Dewi Indrati dan Resi Gotma yang berubah wujud menjadi kera.

Kocap kacarita, setelah Resi Gotama berhasil mengalahkan Raja dari Padepokan Anggrastina, ia bukan saja mendapatkan padepokan tersebut, melainkan juga memboyong perempuan puajan hatinya, yakni Dewi Indrati. Raja Patila, Brahmana Sakti yang berwujud kera, sangat mencintai Dewi Indrati. Begitu pula Resi Gotama. Ia juga kepincut kecantikan sang dewi. Untuk menentukan siapa yang berhak atas Dewi Indrati, kedua Brahmana tersebut melakukan perang tanding.

Peperangan tersebut berlangsung cukup lama, 40 hari. Hal itu karena keduanya sama-sama sakti dan mempuni dalam olah kanuragan. Pada hari yang ke-40, Resi Gotama melepaskanjemparing (panah) sakti Wulan Tumanggal dan tewaslah Raja Patila. Namun, ada keanehan. Setelah Raja Patila tewas, jasadnya berubah menjadi telaga kering atau danau tanpa air. Telaga tersebut mengandung racun yang sangat berbahaya. Siapapun, manusia atau hewan, yang terperosok atau jatuh ke dalam danau jelmaan Raja Patila akan tewas seketika.

Cupumanik Astagina
Setelah Raja Patila tewas, Resi Gotama segera menikahi Dewi Indrati. Dari perkawinan itu, pasangan tersebut dikaruniai tiga anak. Anak pertama perempuan jelita seperti Dewi Indrati, diberi nama Dewi Anjani. Sementara itu, anak kedua laki-laki bernama Raden Guwarsa. Mereka hidup dengan bahagia. Resi Gotama mendidik anak-anaknya dengan membekali ilmu-ilmu kanuragan dan kasantonan sehingga ketiganya dapat mewarisi kesaktian dan kepandaian sang ayah.

Konon, Dewi Anjani, anak perempuan satu-satunya, sangat disayangi Dewi Indrati. Oleh karena itu, ia memberikan piyandel kepada Dewi Anjani berupa Cupumanik Astagina. Kelebihan atau khasiat dari Cupumanik tersebut adalah bisa mendatangkan dewa atau laki-laki bila dikehendaki. Celakanya, dalam gadget Cupumanik tersebut, file gambar rekaman mesum Dewi Indrati saat bermesraan dengan Betara Surya, Sang Dewa Matahari yang terkenal flamboyan, belum terhapus.

Suatu ketika, Raden Guwarsi dan Raden Guwarsa melihat kakaknya, Dewi Anjani, berasyik-masyuk dengan Cupumanik itu. Saat melihat itu, keduanya ingin pula memilikinya. Mereka kemudian memintanya kepada Dewi Anjani. Namun, dengan keras Dewi Anjani tidak membolehkannya. Akhirnya, kedua anak laki-laki tersebut mengadu kepada ayah mereka, Resi Gotama. Sang Resi kemudian meminta paksa Cupumanik dari Dewi Anjani sambil menanyakan dari mana mendapatkan barang tersebut.

Dengan terus terang, Anjani menjawab bahwa Cupumanik itu pemberian ibunya, Dewi Indrati. Dengan rasa cemburu yang membara, Resi Gotama serta-merta bertanya kepada istrinya, dari mana Cupumanik tersebut. Ketika itu, Dewi Indrati sangat ketakutan sehingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan ia tidak mampu menjawab hingga pertanyaan ketiga. Oleh karena itu, Resi Gotama sangat marah. Kesabaran Resi Gotama akhirnya tidak terbendung lagi hingga akhirnya dia mengeluarkan kutukan pada istrinya tersebut.

Karena diam membisu seperti patung saat ditanya, dikutuklah Dewi  Indrati dan berubah menjadi patung batu. Patung tersebut kemudian dilempar Resi Gotama hingga jatuh di Kerajaan Alengka, keratonnya Prabu Rahwana. Kelak dalam perang brubuh antara Prabu Rama Wijaya dan Prabu Rahwana, patung tersebut digunakan Patih Anila untuk membunuh Patih Prahasta dari Alengka. Setelah melempar patung batu itu, Resi Gotama kemudian juga melempar Cupumanik ke tengah hutan. Cupumanik itu akhirnya jatuh di telaga jelmaan Raja Patila. Ada keelokan disana. Telaga yang semula kering, berubah menjadi telaga yang penuh dengan air yang bening.

Ketiga anak Resi Gotama, yakni Dewi Anjani, Raden Guwarsi, dan Raden Guwarsa sama-sama mengejar untuk merebut kembali Cupumanik tersebut. Mereka tahu Cupumanik jatuh ke dalam telaga tersebut. Raden Guwarsi dan Raden Guwarsa langsung terjun ke danau untuk menemukan Cupumanik yang dikira tenggelam ke dasar. Sementara itu, Dewi Anjani hanya mencari dari tepi danau sambil membasuh wajahnya dengan air telaga tersebut.

Menjadi kera
Anehnya, ketika Guwarsi dan Guwarsa keluar dari danau dan tidak mendapatkan Cupumanik, keduanya berubah wujud menjadi kera. Sementara itu, Dewi Anjani, karena hanya membasuh wajahnya dengan air danau, wajahnya berbulu seperti kera juga. Maka menangislah ketiganya dan mengadu kepada ayah mereka.

Resi Gotama mengatakan bahwa kejadian itu merupakan kutukan Raja Patila dalam perebutan Dewi Indrati  waktu itu. Resi Gotama kemudian mengganti nama kedua anak lakinya itu. Raden Guwarsi diganti namanya menjadi Raden Subali, sedangkan Raden Guwarsa berganti nama Raden Sugriwa. Untuk meringankan kutukan tersebut, ketiga anaknya diminta bertapa di hutan sampai suatu nanti bertemu titisan Betara Wisnu yang akan meruwat wujudnya untuk kembali pulih seperti semula.

Benang merah dari kearifan cerita pewayangan di atas adalah bahwa aib dengan latar belakang mesum, cabul, atau immoral (indecent) sebenarnya sudah ada sejak dulu. Kalau saat ini kita sedang dihebohkan video mesum mirip penyanyi Nazril Irham atau Ariel Peterpan, mirip Luna Maya, dan mirip Cut Tari Aminah Anasya, aparat harus mencari tahu apa alas an yang dikehendaki pelaku mesum tersebut.

Di Negara modern tentu pijakannya adalah undang-undang atau hokum untuk menjerat pelaku-pelaku mesum tersebut. Atau apa kita harus menunggu kutukan seperti yang terjadi di PAdepokan Anggrastina, pelaku mesum akan menjadi patung batu dan berwujud kera. Tentu dengan makna yang tidak harus sama persis. Samanggo…
   

more..

 
   Line of Business